Senin, 06 Januari 2014

Apa Kabar "Kita" ?

Pernah nggak ngerasain perasaan yang aneh kayak gini?
Perasaan yang bingung, gantung, nggak tau mau ngapain karena apapun yang dilakuin tidak akan membuahkan hasil yang baik.

Tanggal 11 Januari 2014 nanti tepat sebulan hubungan kita aku anggap "rusak". Tanggal 11 Desember 2013 yang lalu kita mulai tidak berargumen, kita mulai tidak sedekat dulu. Panggilanmu buat aku nggak secinta dulu. Dan tiba-tiba kamu ngeluarin statement kalo selama ini, selama 2 tahun ini aku 'ngekang'. Sebenarnya udah nggak aneh kalo kamu ngomongin aku begitu. Udah banyak kali aku ngelarang kamu ini itu dan aku sadar itu nggak boleh terlalu dilakuin tapi selama ini aku juga nanya ke kamu kan apa aku boleh kayak gitu. Jawabanmu selalu "nggak papa kan tandanya kamu sayang sama aku". Terus jadinya aku nggak tau kenapa sekarang semua itu kamu jadiin senjata buat nyerang aku dan ninggalin aku begitu aja. 
Jujur aja kurang lebih sebulan ini aku bingung. Aku bingung sama perasaan aku. Aku coba untuk menyimpulkan banyak hal untuk meyakinkan diriku kalo kamu udah jahat banget sama aku kalo kamu udah nggak ada perasaan apa-apa ke aku dan kamu juga udah nggak peduli apapun ceritanya tentang aku. Tapi, semakin aku mencari alasan-alasan itu, aku kembali ke satu titik yang membawa aku untuk mencari kamu lagi. Aku bingung, peng. Aku nggak ngerti kenapa sebegini hebatnya perasaan aku ke kamu padahal hari demi hari ini sudah aku laluin tanpa kabar dari kamu, tanpa merasa ada sosok 'pacar' yang sejatinya buat bikin seneng, buat nyemangatin, buat ngehibur, buat susah-seneng bareng. Aku nggak nemuin itu tapi aku tetep aja nekat buat terus nyimpen perasaan yang sama, bahkan semakin cinta setiap hari.

Setiap aku nelpon kamu, nggak jarang aku denger statement-statement kamu yang nggak jauh beda dari orang yang nggak punya perasaan apa-apa. Kamu nggak peduli aku sakit hati. Kamu nggak peduli aku mau matiin telpon atau enggak. Tapi setelah selesai telpon, rasa sakit itu hilang. Ada semangat baru untuk memulai semuanya lagi dari awal. Aku nggak tau kenapa bisa begini. Padahal di telepon itu aku nggak dapat apa-apa. Cuma ada perasaan senang dan bersyukur aja bisa kau angkat.

Waktu kamu sms aku atau balas smsku, walaupun singkat, tapi perasaanku belum berubah. Masih sama kayak waktu dulu aku lagi suka-sukanya sama kamu. Aku pernah buang gengsi. Aku sms kamu seperti biasa seperti waktu dulu kita lagi rukun-rukunnya. Tapi yang ku dapat cuma sms dari seseorang yang bahkan nggak peduli smsnya mau dibalas apa enggak. Setelah itu aku cuma bisa sms kamu sesingkat mungkin yang penting semua maksudku tersampaikan. 

Entah sudah berapa kali aku nanya sama kamu tentang hubungan ini. Hubungan yang nggak nemuin ujung permasalahan yang bisa diselesaikan karena hanya aku yang memikirkan caranya. Kamu tidak membantuku. Kamu membiarkan aku kebingungan, sendiri. Tanpa kamu. Padahal biasanya kita sama-sama mencari solusi. Sekarang, semua yang aku lakuin salah. Aku nggak ngerti. Jalan pikiran kita berbeda. Tapi anehnya, aku masih mau mempertahankan. 

Berulang kali kata putus ku lontarkan. Jangan pikir itu karena aku nggak sayang kamu. Itu aku lakuin supaya kamu bicara. Supaya kamu ngasitau aku gimana caranya untuk memperbaiki semuanya. Kadang ada perasaan takut menyapa. Waktu aku liat semua firasat semua pikiranku semua perasaanku ternyata bener. Apa yang aku liat seringkali aku kaitkan dengan apa yang aku dapat selama ini. Kita terlalu dekat. Aku seakan tau apa yang kamu pikirkan. Karena memang apa yang kamu tunjukkan seperti itu. Susah ngomonginnya. 

Tadi malam aku nelpon kamu. Bukan malam tapi subuh. Bukan tanpa alasan. Aku sudah sms kamu sejak pagi hari. Aku sms baik-baik tapi sayangnya responmu nggak ada. Aku makin bingung. Akhirnya jam 3 subuh aku telpon kamu. Kamu, dengan suara ngantukmu masih mau angkat. Mungkin dengan setengah hati, tapi aku berusaha berpikir positif. Aku tetap lanjut nelpon kamu. Nggak pake basa-basi. Aku langsung nanya apa yang mau aku tanya. Aku terlalu jujur untuk ukuran seorang perempuan. Aku nggak bisa lagi nyembunyiin. Aku pengen semuanya clear. Kadang aku pengen jawabanmu itu mendukung aku tapi kenyataannya semua jawaban itu malah bikin penasaran dan bikin aku tambah bingung. Bingung mau ngapain. Nggak terasa udah 2 jam kita bicara. Sampai akhirnya kita tiba di satu perbincangan dan kamu nanya "Kalo aku nggak bisa sms kamu ngabarin kamu nelpon kamu kalo aku lagi latihan, kamu marah nggak?" 
Aku jawab jujur kalo aku marah. Nggak tau apa yang kamu pikirin setelah itu. Yang jelas, nada bicaramu seperti "Iya aku tau kamu bakalan bilang gini. Kamu sama aja kayak yang lain. Pemarahan." Mungkin itu yang kamu pikirin :)
Pernah nggak sih denger istilah "Marah karena sayang?"
Mungkin kamu nggak percaya. Tapi inilah yang bisa aku kasi ke kamu. Kenapa aku marah? Karena aku nggak mau sedetikpun kehilangan kamu. Kehilangan kabarmu. Aku marah bukan berarti aku benci. Bukan berarti aku egois. Aku sayang kamu!
Hal se simple itu nggak pernah bisa kamu kabulkan , kan? Apa salahnya kamu ngabarin aku? SMS itu nggak butuh berjam-jam. Kalopun aku marah, apa terlalu berat buatmu untuk sms aku dan ngasi alasan kenapa kamu nggak sms aku. Kalo aku masih tetep marah, jangan pikir aku pemarahan dong. Itu cuma beberapa saat. Sebenernya dengan kamu jelasin semuanya itu udah cukup kok cuma ya marah dikit nggak papa kan yang penting habis itu udah kan kembali seperti normal. 
Toh selama ini kalo aku marah kamu nggak pernah jelasin. Yang ada kamu balik marah ke aku. Itu yang aku maksud :')
Banyak yang susah banget dijelasin ke kamu. Jadi semalam aku nggak bisa jelasin apa-apa selain dipendam. Aku nggak tau sampe kapan. Yang jelas aku nggak mau kita berakhir cuma karena masalah ini. Aku terlalu sayang. 

Habis nelpon kamu, walaupun nggak selesai juga dan berakhir seperti biasa, nggak tau kenapa aku ngerasa sesak. Banyak banget yang aku tahan, banyak banget yang aku pendam. Banyak banget yang aku targetkan dan ternyata nggak ada satupun yang terucap. Air mata jatuh lagi. Entah karena aku sayang kamu atau karena aku benci kamu tapi nggak bisa. 

Aku tutup semuanya dengan doa. Berharap ada keajaiban keesokan harinya. 

Pagi tadi, kamu mulai percakapan dengan lugu. Kamu tanya kenapa aku masih mau pertahanin kalo aku nggak bahagia. Nyata jantungku langsung deg-degan baca sms itu, semua rasanya sesak. Airmata udah mau keluar tapi aku tahan karena aku di kantor. Karena aku kerja di wilayah depan kantor. Nggak lucu banget ada tamu yang liat aku nangis sambil pegang hp. Aku tahan. Aku balas dengan tenang dan dengan jujur. Aku bilang karena aku nyaman, karena aku sayang dia dan karena aku nggak mau berakhir begitu aja tanpa kejelasan. 

Setelah semua smsmu pagi tadi, yah seperti biasanya, seisi ruang hati rasanya hancur. Rasanya nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Bawaannya lemes. Tapi aku kerja. Aku harus mikirin kerjaan. Aku harus mikirin masa depanku. Aku nggak bisa mikirin kamu aja kan, peng. Jadi aku memilih untuk nyimpen hp dan lanjut kerja :')
Ini keadaan yang bener-bener nyiksa buat aku. Harus kerja dengan pikiran nggak tenang dan terus menerus mikirin isi smsmu. 

Tapi aku harus tetep bertahan karena ini yang aku pilih. Mungkin yang bisa bikin aku berhenti itu waktu Tuhan nunjukkin wanita yang lain yang lebih pantas buat kamu :') Mungkin cuma Dia yang bisa berhentiin aku.

Kalo suatu hari nanti kamu baca isi blog ini yang hampir semua isinya tentang kamu, jangan kaget ya :') Ini perasaan aku ke kamu :')

Love you Peng. Love you my 14411. Aku kangen kamu. 




Putri