Selama ini memang aku tahu kalo penyesalan itu tidak pernah datang di awal cerita. Selalu berada di akhir cerita. Sama seperti yang sedang aku alami. Aku benar-benar menyesali semua perbuatanku semua tingkah laku ku. Ku pikir selama ini kamu senang. Ku pikir apa yang ku lakukan selama ini berharga buat kamu. Ternyata tidak. Semua yang aku lakukan ternyata membuat jarak kita semakiin jauh jauh jauh dan semakin jauh. Sampai pada saat ini, kamu berada di titik jenuhmu yang sangat kronis ditambah lagi banyak orang diluar sana mendukung suasana hatimu dan pikiranmu untuk tidak lagi mengharapkan aku. Mungkin kamu pikir tanpa aku kamu akan baik-baik saja. Ya, kamu benar. Memang aku tidak punya pengaruh apapun dalam kehidupan kamu. Kamu sehat, kamu bisa dapat nilai bagus di kampus, kamu bisa selamat sampai tujuan waktu kamu pergi, kamu menang lomba, semuanya. Itu semua bukan karena aku. Aku tidak melakukan apapun kecuali berdoa dan mengingatkan. Aku justru cuma bisa ngerepotin. Nggak boleh ini nggak boleh itu. Sekarang kamu bebas. Tambah bebas lagi karena aku akan segera berhenti mencari kamu. Paling tidak kamu akan terbebas dari pesan singkatku yang sebenarnya jujur aku sampaikan tapi sayangnya kau anggap hanya kicauan biasa. Hanya perasaanku yang berlebihan dan tidak perlu ditanggapi. Tapi aku mencoba untuk melupakan dan memaafkan. Toh selama ini aku melakukan tanggung jawabku dengan baik. Aku setia sama kamu. Aku menyayangi kamu seperti aku menyayangi diriku sendiri. Seperti aku menyayangi kedua orang tuaku dan semua keluargaku.
Kalaupun aku menyakiti, sebaiknya kamu introspeksi diri kenapa aku begitu. Tapi sudahlah. Semuanya tinggal kenangan. Aku tidak akan mengingat semua itu. Tidak secepat itu tapi paling tidak satu persatu kenangan akan aku hapus. Tidak peduli seberapa lama kita pacaran. Tidak peduli seberapa banyak memori yang ada di otakku yang harus dengan sangat terpaksa ku hapus. Akhir-akhir ini aku mencari kebahagiaan lain yang dulu aku pikir semua ada di kamu, tapi sekarang aku harus mencari kebahagiaan yang lain. Karena aku sadar aku tidak bisa terus menerus tenggelam dalam diam, penyesalan, dan kegalauan.
Kalaupun aku menyakiti, sebaiknya kamu introspeksi diri kenapa aku begitu. Tapi sudahlah. Semuanya tinggal kenangan. Aku tidak akan mengingat semua itu. Tidak secepat itu tapi paling tidak satu persatu kenangan akan aku hapus. Tidak peduli seberapa lama kita pacaran. Tidak peduli seberapa banyak memori yang ada di otakku yang harus dengan sangat terpaksa ku hapus. Akhir-akhir ini aku mencari kebahagiaan lain yang dulu aku pikir semua ada di kamu, tapi sekarang aku harus mencari kebahagiaan yang lain. Karena aku sadar aku tidak bisa terus menerus tenggelam dalam diam, penyesalan, dan kegalauan.
Kemarin kamu kembali menyingkap kenangan itu. Kamu follow aku di twitter tapi sayang setelah itu akunmu suspend dan akhirnya hilang. Entah apa maksudnya tapi kejadian itu cukup membuka kembali lembaran sebelumnya yang sudah dengan susah payah ku tutup. Setelah kejadian beberapa menit itu, aku kembali berusaha untuk tidak mengingat. Berhasil. Aku bisa menahan jemariku untuk menanyakan kabarmu via sms atau telepon. Aku seperti memaksakan diri. Tapi tak apalah. Semuanya sudah cukup sakit. Aku tidak bisa terus-menerus mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin aku dapatkan sekeras apapun aku berusaha.
Lalu, tadi pagi kamu datang lagi dengan pesan singkatmu. Perasaanku masih sama. Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Nafasku sesak ku tahan tidak sengaja. Mataku tidak bisa terlepas dari pandanganku ke arah handphoneku. Jariku yang ingin sekali membalas pesan itu dengan antusias akhirnya menahan diri untuk tidak terlihat seantusias yang sebenarnya. Keinginanku untuk tidak lagi mengganggumu terlalu besar. Akhirnya kubalas pesan singkat itu dengan sewajarnya saja seperti tidak ada apa-apa. Padahal hati ini menangis. Akhirnya, benar apa dugaanku. Sampai detik ini pesan itu tidak kau balas. Terimakasih Tuhan, aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan.
Hari ini seharusnya kita jalan. Tapi sekali lagi aku harus buang jauh-jauh keinginanku, ke egoisanku untuk mempertahankan hubungan yang aneh ini. Aku tidak bisa memaksa dia untuk terus menuruti keinginanku. Aku harus jadi dewasa. Aku harus rela. Aku harus ikhlas.
Hari ini aku jadinya jalan ama Winna. Nonton Laskar Pelangi 2. Keren banget filmnya kerasa banget suasanya Eiffelnya kerasa banget Parisnya. Jadi pengen banget kesana kayak di film itu hahaha kapan ya? :)
Well, semoga hari esok lebih baik dari hari ini yaaaaa
Selamat bermalam minggu semuanya :)
With Love,
Putri