Kamis, 22 Mei 2014

Hari ini aku berusaha tidak menatap mata itu dalam-dalam. Aku takut untuk tau masih ada cinta atau tidak disana. Aku takut untuk menyadari bahwa aku gagal mencoba melupakan kita. Liat kamu seperti ini sekuat ini aku jadi ingat pertama kalinya................ -masalalu-
Beberapa hari ini entah aku merasa ada yang memacu semangatku. Ada yang mampu membuat aku kembali bertahan dalam perih yang selama ini ku jalani sendiri. Apapun yang aku akhirnya ketahui, apapun yang telah kamu lakukan dengannya seperti hilang begitu saja dalam ingatan. Semuanya terhapus, berganti dengan hati yang selalu mencari alasan untuk memaafkan. Waktu aku lihat kamu, jujur perasaan ini masih sama. Sama sekali tidak berubah. Tidak ada yang berubah walaupun

Selasa, 20 Mei 2014

Kamu datang lagi waktu aku sudah mengambil keputusan yang aku pikir memang bukan keputusan yang benar karena aku putuskan waktu keadaanku nggak tenang. Aku memutuskan untuk berhenti berharap setelah sekian lama aku memperjuangkan cerita ini waktu aku "dengan sengaja" melihat bahagianya kalian berdua. Aku pikir cerita ini harus diakhiri sampai disini. Aku cuma ingin bahagia. Itu saja. Aku sadar bahagia harus bisa aku ciptakan sendiri saat beberapa orang yang biasa ada dalam ruang bahagiaku akhirnya pergi begitu saja.

Kamu datang lagi membawa kisah baru. Membawa drama baru yang harus sekilat mungkin aku pelajari skripnya. Dengan semua yang sudah pernah terjadi, banyak membawaku kepada pelajaran untuk tidak terlalu menggunakan

Kamis, 15 Mei 2014

Akhirnya

Kita sudah sampai..
Sampai dan berhenti di waktu yang sangat tepat. Cinta memang harus berakhir ketika aku mulai jatuh cinta sedalam mungkin sedangkan kamu telah melupakan aku selupa mungkin. Aku marah. Aku kecewa. Aku bingung. Tapi aku nggak bisa apa-apa. Kita sudah dewasa dan ini bukan saatnya untuk aku marah-marah dan memaksa keadaan seperti yang aku mau. Ini saatnya aku menerima keadaan. Kamu lebih memilih dia yang aku pikir tidak jauh lebih baik dari aku namun kau puja layaknya dia bisa memberikan kamu kebahagiaan lebih dari yang aku berikan selama ini. Aku kalah di intensitas waktu bertemu. Dia memang bisa selalu bertemu kamu, bisa memantau kamu, bisa menghapus keringat lelahmu saat latihan, bisa membantumu tersenyum saat kau seakan lelah dengan tugas kuliahmu. Aku disini hanya bisa menyebut namamu dalam doa. Mungkin itu tidak cukup untukmu makanya kau lebih memilih dia. Aku jadi nggak tau dengan cara apa aku harus percaya sama semua kata-katamu. Kamu bilang kamu nggak akan memilih siapapun. Kamu bilang kamu fokus ke karir dan pendidikanmu. Kamu bilang belum ada yang mampu menggantikan posisiku. Tapi kenyataannya berbanding sangat jauh. Aku melihat dengan mataku sendiri dengan nyata bagaimana kalian saling berbagi, bagaimana kalian saling bertukar cinta,