Hari ini aku berusaha tidak menatap mata itu dalam-dalam. Aku takut untuk tau masih ada cinta atau tidak disana. Aku takut untuk menyadari bahwa aku gagal mencoba melupakan kita. Liat kamu seperti ini sekuat ini aku jadi ingat pertama kalinya................ -masalalu-
Beberapa hari ini entah aku merasa ada yang memacu semangatku. Ada yang mampu membuat aku kembali bertahan dalam perih yang selama ini ku jalani sendiri. Apapun yang aku akhirnya ketahui, apapun yang telah kamu lakukan dengannya seperti hilang begitu saja dalam ingatan. Semuanya terhapus, berganti dengan hati yang selalu mencari alasan untuk memaafkan. Waktu aku lihat kamu, jujur perasaan ini masih sama. Sama sekali tidak berubah. Tidak ada yang berubah walaupun
banyak yang ingin ku ubah. Perasaan ini belum kapok untuk sakit. Belum kapok untuk merasakan sakitnya terjatuh tanpa ada tangan yang mau membantu bahkan telinga yang mau mendengar keluhnya. Beberapa hari ini kamu kembali menjadi kamu yang aku kenal dulu. Aku sempat berfikir untuk merajut kembali apa yang sudah aku bongkar selama ini. Hanya butuh kesabaran. Hanya butuh waktu untuk kembali menerka-nerka apa lagi yang akan terjadi esok hari. Hanya twitter yang bisa kugunakan untuk menebak apa yang terjadi antara kalian berdua sebagai modal ku untuk maju atau mundur. Sudah sering sekali kau buat aku maju beberapa langkah dan akhirnya harus mundur seribu langkah karena tau di depan akan ada kekecewaan. Tapi kali ini ada keyakinan yang membuat aku bertahan. Entah akan ada sakit dan kecewa atau ada gembira dan bahagia di depan. Aku akan menjalaninya dengan tulus dan ikhlas. Sekali lagi aku mencuri beberapa detik untuk melihat wajahmu walau hanya sekilas walau hanya dari ekor mataku. Benar-benar nggak nyaman. Biasanya aku bisa sepuasnya melihat wajahmu itu. Biasanya aku tak ragu memegang dahimu untuk sekedar merasakan panas yang kamu rasakan. Sekarang pergerakan tanganku harus terhenti karena aku tau kita bukan lagi sepasang kekasih, bahkan canggung bila ku sebut kau sahabatku. Sekarang aku harus menunggu waktu kau memberiku kesempatan untuk bicara, padahal biasanya aku selalu mendominasi perbincangan kita. Semua ku ubah. Hanya untuk melihat ada apa di depan sana. Apakah aku akan kau jatuhkan lagi?? Aku takut....
banyak yang ingin ku ubah. Perasaan ini belum kapok untuk sakit. Belum kapok untuk merasakan sakitnya terjatuh tanpa ada tangan yang mau membantu bahkan telinga yang mau mendengar keluhnya. Beberapa hari ini kamu kembali menjadi kamu yang aku kenal dulu. Aku sempat berfikir untuk merajut kembali apa yang sudah aku bongkar selama ini. Hanya butuh kesabaran. Hanya butuh waktu untuk kembali menerka-nerka apa lagi yang akan terjadi esok hari. Hanya twitter yang bisa kugunakan untuk menebak apa yang terjadi antara kalian berdua sebagai modal ku untuk maju atau mundur. Sudah sering sekali kau buat aku maju beberapa langkah dan akhirnya harus mundur seribu langkah karena tau di depan akan ada kekecewaan. Tapi kali ini ada keyakinan yang membuat aku bertahan. Entah akan ada sakit dan kecewa atau ada gembira dan bahagia di depan. Aku akan menjalaninya dengan tulus dan ikhlas. Sekali lagi aku mencuri beberapa detik untuk melihat wajahmu walau hanya sekilas walau hanya dari ekor mataku. Benar-benar nggak nyaman. Biasanya aku bisa sepuasnya melihat wajahmu itu. Biasanya aku tak ragu memegang dahimu untuk sekedar merasakan panas yang kamu rasakan. Sekarang pergerakan tanganku harus terhenti karena aku tau kita bukan lagi sepasang kekasih, bahkan canggung bila ku sebut kau sahabatku. Sekarang aku harus menunggu waktu kau memberiku kesempatan untuk bicara, padahal biasanya aku selalu mendominasi perbincangan kita. Semua ku ubah. Hanya untuk melihat ada apa di depan sana. Apakah aku akan kau jatuhkan lagi?? Aku takut....
Hari ini aku nggak sengaja duduk di meja dengan angka favorit kita dulu. Aku benar-benar nggak sengaja membangunkan kembali cerita lama yang sejauh ini ku pendam untuk di ceritakan. Aku nggak bisa bohong. Semuanya kembali mengingatkan aku. Tapi lagi-lagi aku harus berpura-pura tidak tahu. Aku harus menjadi bukan aku untuk membuat kamu bertanya-tanya dan menerka-nerka apa yang aku pikirkan. Tuhan aku ingin tersenyum tapi ini benar-benar membuatku kaku. Aku sangat menikmati hari ini walaupun sering sekali pikiran-pikiran itu melintas dalam pikiranku. Pikiran tentang kamu dan dia. Tapi aku nggak mau merusak suasana. Lagi-lagi-lagi dan lagi aku harus diam.
"Tuhan sungguh aku bahagia masih bisa duduk disampingnya hari ini, memandang wajahnya, merasakan pundak kami yang tak sengaja bersentuhan, merasakan teduhnya ketika mata kami bertemu dan saling menyambut dengan bahagia, melihat dia tersenyum karena aku, walaupun cuma sesaat. Aku nggak tau ini sementara atau nggak. Yang jelas, aku bersyukur ya Tuhan. Jaga dia selalu karena dia adalah bagian dari hidupku."With Love,
PIWK
