Kamis, 15 Mei 2014

Akhirnya

Kita sudah sampai..
Sampai dan berhenti di waktu yang sangat tepat. Cinta memang harus berakhir ketika aku mulai jatuh cinta sedalam mungkin sedangkan kamu telah melupakan aku selupa mungkin. Aku marah. Aku kecewa. Aku bingung. Tapi aku nggak bisa apa-apa. Kita sudah dewasa dan ini bukan saatnya untuk aku marah-marah dan memaksa keadaan seperti yang aku mau. Ini saatnya aku menerima keadaan. Kamu lebih memilih dia yang aku pikir tidak jauh lebih baik dari aku namun kau puja layaknya dia bisa memberikan kamu kebahagiaan lebih dari yang aku berikan selama ini. Aku kalah di intensitas waktu bertemu. Dia memang bisa selalu bertemu kamu, bisa memantau kamu, bisa menghapus keringat lelahmu saat latihan, bisa membantumu tersenyum saat kau seakan lelah dengan tugas kuliahmu. Aku disini hanya bisa menyebut namamu dalam doa. Mungkin itu tidak cukup untukmu makanya kau lebih memilih dia. Aku jadi nggak tau dengan cara apa aku harus percaya sama semua kata-katamu. Kamu bilang kamu nggak akan memilih siapapun. Kamu bilang kamu fokus ke karir dan pendidikanmu. Kamu bilang belum ada yang mampu menggantikan posisiku. Tapi kenyataannya berbanding sangat jauh. Aku melihat dengan mataku sendiri dengan nyata bagaimana kalian saling berbagi, bagaimana kalian saling bertukar cinta,
bagaimana kalian saling mengumbar cinta. Aku sakit? Jelas saja. Aku cemburu? Sangat. Tapi sekali lagi, aku cuma bisa memeluk lembar demi lembar diary ku yang dulu ku tulis untukmu, menaruhnya didepanku sambil aku melipat tangan dan berdoa. Bukan untuk kesembuhan hatiku yang hancur waktu kamu tinggal pergi secara sadis, melainkan demi kamu; Semoga kamu mengambil keputusan yang tepat dan tidak mengecewakanmu -seperti kecewaku kepadamu- suatu hari nanti. 

Didalam kamarku, hampir disetiap sudutnya menyimpan kenangan. Ada fotomu di balik lemari kaca ku, ada gambarmu -hadiah ulang tahunku- yang ku abadikan di dinding kamar tepat di sebelah wallsticker Paris ku. Ada beberapa kado ulang tahun ku hias rapi di dalam lemari, khusus untuk mengingatmu sebelum aku tidur. Semua ini memang sama sekali tidak membantuku untuk berhenti mikirin kamu. Itulah kenapa akhirnya aku memutuskan mengubur mereka dalam-dalam. Aku meletakkan mereka semua di satu tempat yang tidak bisa kulihat terus-terusan setiap hari. Cuma untuk tidak kembali mengingat kamu. Tidak semudah itu memang. Tapi yang penting aku sudah berusaha. Lebih baik daripada aku berdiam diri lalu tiba-tiba menangis saat melihat foto kita berdua terpasang jelas disana.

Kadang aku memikirkan sejenak apasih salahku sama kamu, kenapa ini semuanya bisa terjadi, kenapa hari itu hari terakhir kamu ajak aku jalan dan kenapa firasatku selalu benar tentang kamu. Kamu ingat aku peluk kamu erat tidak seperti biasanya hari itu? Kamu ingat aku hapus air mataku di depanmu hari itu? Kamu ingat wajahku yang khawatir tentang Kita? Kamu ingat semua curigaku yang ternyata benar? Ah, kupikir kamu akan jadi yang terakhir, seperti yang kamu janjikan. Ternyata itu cuma karena bahagiamu yang sesaat?

Tuhan, kalau aku bisa memutar waktu, aku nggak akan mengubah keadaan, mengubah perasaan sehingga aku lebih memilih jatuh cinta kepada laki-laki lain. Aku cuma mau mengubah cara berpikir ku ketika aku dan dia masih menjadi kita. Aku seharusnya nggak cemburuan karena pada akhirnya aku merusak semuanya karena cemburu yang berlebihan. Aku seharusnya nggak ngambek kalo kamu nggak ngabarin, karena pada akhirnya kamu lebih suka dapet kabar dari orang lain ketimbang melihat sms atau mengangkat teleponku yang penuh nada menjengkelkan. Aku seharusnya lebih ngerti kegiatan kamu diluar sana karena pada akhirnya ketidakngertian ku itu membawa kamu lebih memilih dia yang ada didalam kegiatanmu. Aku pengen ubah semuanya. Tapi aku tau itu hal yang sangat nggak mungkin. 

Yang bisa aku lakuin sekarang cuma melihat ke belakang sebagai bahan introspeksi diri, mendoakan, dan melihat masa depanku yang masih sangat sangat sangat panjang. Aku tau kondisi ini bikin aku sakit. Orang bilang aku kurusan. Emang iya. Aku nggak tau kenapa jadi se berpengaruh ini. Terserah orang bilang aku terlalu berlebihan atau apa yang jelas Demi Tuhan ini permasalahan yang berat buatku. Ini pergumulan buatku. Kalian tau kan rasanya mencintai seseorang dengan sepenuh hati, jiwa dan raga tapi ternyata dia tidak mengerti rasanya jadi kalian?? Sebagian orang bilang, "Masih banyak cowok lain ngapain mikirin dia?". Oke cowok memang banyak tapi apa aku bisa menemukan kenyamanan yang sama? :) Akhirnya, kisah yang kita mulai saat kita memulai kehidupan remaja kita harus berakhir saat kita baru akan dewasa. Terimakasih banyak. Aku akan selalu mencintai kamu sebagai sahabat :)

Ya Tuhan, jaga dia dari orang-orang yang membenci dia. Sukseskan dia dalam studi dan karirnya. Buat dia lebih bisa mencintai orang-orang yang benar-benar mencintai dia dan jangan sampai dia salah mencintai orang. Tuntun dia untuk selalu mengingat Engkau sama seperti Engkau mengingat dia. Biarkan aku dan dia bertemu sebagai seorang sahabat suatu hari nanti tanpa mengingat masa lalu kami yang menyakitkan buatku. Hilangkan semua dendam dan amarah dalam hati kami masing-masing. Berikan dia dan keluarganya serta orang-orang disekitarnya kesehatan dan kekuatan untuk menjalani hari-hari. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin :)


With Love,



PIWK